Ruang dan Waktu

Dalam konteks teori relativitas, waktu tidak bisa terpisahkan dari ruang. Beriringan. Waktu hanya memiliki satu dimensi. Searah. Sejalan. Maju. Oleh karenanya, kita tidak bisa memaksanya berbalik. Bisakah kamu membayangkan? Bila hendak kembali ke titik waktu tertentu, tentunya kita harus mempunyai kemampuan meletakkan semua posisi partikel pada tempat semula dengan tepat secara serempak di seluruh alam semesta—yang—jelas memiliki tingkat persentase mencapai nol. Ibarat retakan cangkir kopi yang ingin dibentuk seperti semula. Apakah bisa sedemikian sama? Mustahil.

Dengan berdiri sendiri, waktu enggan menghadirkan materi seperti yang dilakukan oleh ruang dimana kita dapat melakukan gerakan sesuka hati—maju, mundur, ke atas, ke bawah, atau ke arah samping sekalipun. Namun ketahuilah, waktu menyediakan materi untuk bergerak, berubah karena gaya.

Keduanya bekerja sama. Ruang dan waktu bukan hanya berbicara soal dimensi.

Jauh, mencakup lebih dari itu.

Menghasilkan berbagai macam letupan memoar—yang—baik dan buruk. Membentuk jagat raya misalnya—yang didalamnya berisi apapun. Mengekspansi perlahan membentuk ribuan galaksi. Hingga kamu diseret hidup di bumi. Tidakkah kamu berpikir apakah sesuatu tersebut bernilai baik atau buruk? Baik karena betapa luar biasanya rakitan-rakitan Tuhan tanpa ada orang yang dapat melampaui imaji-Nya. Buruk—karena mungkin—ilmu sains—serta kamu dan aku—nyaris dibuat kerepotan memecahkan segala kemisteriusan-Nya.

Atau, mengenai lingkup sejarah. Ruang dan waktu membawa itu semua dengan menyisakan jejak. Meniti setapak demi setapak melalui beberapa tumpukan catatan dan rekaman. Dibuatnya kita mengingat tapi tidak pernah bisa meminta kembali. Perang Dunia I dan II yang memakan banyak korban, contohnya. Kasus pelecehan seksual Katolik Roma. Pertumpahan darah 10 November. Atau yang paling menarik, bagiku, bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur pada 3 Oktober 1990, die Wende. Membayangkan antara ngeri dan merasa beruntung bila turut andil dalam bagian. Sejarah tak selamanya berisi kejadian-kejadian kelam.

Saat ini—secara nyata, hal yang lebih sederhana adalah semakin panjang durasi hidup, semakin banyak pula orang-orang baru yang digiring ruang dan waktu. Dipertemukan secara sengaja atau tidak. Singkat atau lama. Berkesan atau biasa saja. Menghadirkan persoalan-persoalan rumit mengenai keegoisan, ketiadaan, perasaan, kesalahpahaman, dan hal-hal lain yang terkadang meletihkan.

Arus waktu yang merangkak maju memaksa kita memudarkan keping-keping memoar kenyamanan masa kecil. Berkontemplasi bahwa hidup memiliki tujuan. Andaikata seseorang bisa dengan mudah menekan tombol ”back“ pada waktu dan kejadian yang sama, maka dia akan seenak hati merombak segala kesalahan dimasa lalu setelah tahu konsekuensi yang dirasakan di masa depan tanpa menyisakan penyesalan. Tapi sepertinya Tuhan tidak bekerja sesepele itu. Ruang dan waktu menyisihkan titik-titik pembelajaran dan pengalaman tertentu.


Ruang sebagai tempat berlangsungnya kejadian dan kenangan. Sedang waktu, memberi kesempatan. Dan kamu serta aku—selaku peran utama.

Selamat bermain!


—Malang, 22 September 2018

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran