Pesan untuk Ibu Kota
Tulisan ini barangkali akan menjadi sedikit lebih pendek. Agak menjenuhkan mungkin, seperti buku diary. Sangat jarang aku memposting dua tulisan dalam rentang waktu sehari. Perasaan kalut dan mood buruk lantaran beberapa hal yang tidak bisa kusebutkan, mendorongku untuk sebagian menumpahruahkannya disini.
Setiap orang pada titik tertentu akan mendapati bosannya sendiri, pasti, demikian aku. Entah pada suatu benda yang amat disayang sekalipun, pada orang yang katanya dianggap spesial, atau pada hobinya sendiri, juga bisa. Saat ini, aku merasa jemu pada sosok yang tidak pernah melewatkan ucapan selamat paginya lewat pesan singkat sebelum aku berangkat kuliah. Sosok yang diam-diam memberi isyarat bahwa kalimat penyemangat sungguh penting dilontarkan agar aku dapat menjalani hari dengan baik, katamu. Ngomong-ngomong, terima kasih untuk itu semua. Kudapatkan setiap hari tanpa perlu repot meminta.
847,3 km, jarak kita sekarang. Kau dan aku tidak mungkin bisa memperpendeknya dalam waktu dekat, kecuali kalau benar-benar ada pintu doraemon, haha. Bagaimana harimu? Kali ini, giliran aku yang menanyakan. Aku ingin mendengar mengenai kejadian apa saja yang menjengkelkan dan membuatmu senang hari ini. Aku ingin menjadi pendengar layaknya kamu yang dengan sabar menungguku selesai berbicara sebelum akhirnya memberi komentar atau pujian. Aku mau kau merasa dipedulikan juga, olehku, setelah dihari-hari sebelumnya sempat amat kuacuhkan.
Aku sengaja menghilang, tidak membaca pesan-pesanmu yang nampaknya memang menunggu balasan meski hanya satu kata. Lagi-lagi, aku kembali pada sifat burukku yang tiba-tiba sering mengabaikan, tak peduli seberapa dekat orang tersebut. Ya, ketahuilah, aku memang begini. Menjadi sahabat atau sosok yang ku sayang lantas tidak menjadikanmu sebagai orang yang aku prioritaskan. Melakukan hal berdasarkan keegoisan pribadi tanpa memikirkan apa yang akan diterima sekitar. Kesannya jahat, kan?
Aku akan menunggu saat-saat itu, sebuah titik pertemuan.
Apakah kau yakin? Apakah kau yakin dengan kalimat pernyataanmu itu? Apakah kau bisa menungguku selama itu? Aku pernah memikirkan untuk kemudian menetap ditempat dimana kau dibesarkan sebagai anak sulung. Aku pernah memiliki keinginan berada disitu untuk mengejar karirku. Tapi ah, yang namanya lelaki, penuh tipu daya, kan? Tidak pernah aku menaruh percaya atau ekspektasi yang berlebih-lebih. Dengan segala tetek bengek riuh ibu kota yang ada disana, aku menyimpulkan ucapanmu sebagai bualan. Mana mau aku menanggapi serius. Omong kosong.
Akan tetapi disela waktu, seperti saat ini tepatnya, ada bimbang, sedikit rasa sayang, dan keinginan untuk memilikimu. Bukan tanpa alasan, sebab kau bisa membuktikan beberapa ucapanmu yang pernah membuatku skeptis.
Aku belum bisa memberi jawaban. Aku belum bisa memastikan.
—Malang, 26 Maret 2019
Comments
Post a Comment