Pengakuan
Seorang teman. Seorang teman kelahiran Malaysia yang kurang lebih tiga pekan lagi akan kembali ke kediamannya di Nunukan, Kalimantan Utara, menanyakan perihal siapa yang menjadi objek tulisanku akhir-akhir ini. Pertanyaan yang membuatku terdiam untuk sepersekian detik. Pertanyaan yang sebenarnya mudah untuk kujawab dengan hanya menyebutkan satu kata—sebuah nama.
Selama ini tidak ada yang pernah tahu pada siapa aku menaruh hati. Tidak ada satupun teman yang padanya kuceritakan sosok yang menjadi fantasiku tiap malam—dalam kelam, muram, pun senang. Aku selalu menolak menyebarluaskan, sebab aku tidak yakin secara pasti. Ada keraguan yang kerap menyelimuti, apakah perasaanku ini tergolong pada ketertarikan, kekaguman, berlandaskan kasih, atau malah afeksi yang tinggi—cinta.
Padanya—teman perempuanku itu—aku mengakui secara gamblang. Aku mengakui bahwa kamu adalah yang saat ini menjadi angan. Benar-benar mengacaukan pikiran. Dengan lagu di playlist yang aku putar saat perjalan dini hari menuju Kota Malang, terdapat satu sketsa wajah yang menjadi dambaan seorang perempuan. Di perjalanan aku membayangkan dua kemungkinan. Kemungkinan bilamana nanti kita tidak ditakdirkan beririringan dalam pelukan kosmos. Atau malah kemungkinan lain, tumbuh sebagai pasangan manis layaknya Carl Sagan yang mempersembahkan ucapan paling romantis dalam bukunya untuk sang istri, Ann Druyan, yakni, “Dalam luasnya antariksa dan panjangnya waktu, bahagia rasanya bisa menempati planet dan zaman yang sama dengan Annie.” Aku ingin probabilitas yang terakhir, tentu saja.
“Berarti benar, kamu sedang jatuh cinta.”
Jawab seorang temanku lagi saat aku mengadukan apa-apa yang kuanggap sebagai kebatinan pribadi. Ah, mana mungkin! Mana mungkin seorang Libra dengan mudahnya jatuh cinta dalam jangka waktu singkat. Barangkali ada yang salah dengan diriku. Entah siapa saja yang menjalin hubungan dekat denganku, dengan tegas aku memberi sekat bahwa kita hanya berada dibatas pertemanan. Ya, teman. Bukan sepasang kekasih yang saling ingin memperjuangkan. Juga, pernah ada seseorang yang meminta untuk mengikatku pada tahap yang lebih serius, tapi aku menolak. Dengan alasan masih ingin menikmati hidup tanpa keterikatan dengan siapapun yang pada akhirnya menciptakan batasan-batasan. Tak apa, aku sendiri.
Pada dasarnya, banyak diantara kita yang sulit sembuh dari kelabu masa lalu. Sedikit sekali yang setelahnya mudah menerima figur baru. Adalah lumrah sebenarnya. Perlu penyesuaian cukup lama, ‘bukan? Kecuali, ada sesuatu yang sangat menarik perhatianmu. Ada kesamaan walau tak seluruhnya.
Dan aku mendapatkan semua itu dalam dirimu. Dengan porsi yang pas dan adanya sedikit percik kemisteriusan. Pria kelahiran … ah, aku tidak bisa menyebutkan rinci, sebab bisa saja tetiba kau membaca blog ini dan sungguh, aku akan salah tingkah setengah mati.
Memiliki hobi yang sama denganku, menulis. Aku selalu mudah terpikat pada pria yang mendedikasikan (sedikit) waktunya untuk menulis. Perjalanan hidupmu rumit. Kau merasakannya dan aku mengetahui itu (sedikit). Dengan kerumunan kata, kau berhasil mengubah rupa gelap liku hidup menjelma tulisan yang sejuk untuk dibaca sesiapa saja, termasuk aku. Dibalut metafora dan larasnya diksi.
Bolehkah aku, merasakan sebagai sosok perempuan yang cukup beruntung menjadi objek yang kau tuangi melalui sebuah tulisan? Rasa-rasanya aku sangat ingin. Mengetahui betapa bahagianya hadirku menghambur dipikiranmu sebelum akhirnya menjelma buku, coretan penuh di kertas, atau apapun itu.
Disini aku mengakui untuk kedua kali, bahwa aku jatuh hati, padamu, tentu. Entah. Entah asal muasalya darimana. Tak tahu, begitu lekas pula. Setidaknya, aku menganggapmu lebih dari sekadar seorang teman lawan jenis—yang biasanya sering kuacuhkan. Aku memandangmu sebagai harapan.
Bak opium ketika menghirup aroma benda itu dan melihat ulang isinya.
Ditulis di kamar kos saat kehabisan air galon. Rabu ini bolos dua mata kuliah, Deutsch IV dan Arbeit am Text lantaran tidak ada mood melangkahkan kaki ke Fakultas Sastra D8. Agaknya, aku hanya ingin menulis hari ini, melakukan apa yang benar-benar kuiingini, seperti lagu In Guter Gesellschaft dari 2ersitz,
Wir tun, was wir können
Machen, was wir wollen
Dan untuk Aini, biarkan kita berdua yang tahu, nama orang yang kumaksud.
—Malang, 24 April 2019
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete