Eksistensi Mencintai Diri Sendiri
“Siapa di bumi yang mencintai dirinya sendiri? Hanya orang idiot yang mencintai diri mereka sendiri. Apakah kau mengenal seseorang yang mencintai dirinya sendiri? Aku tidak.”
Benarkah eksistensi mencintai diri sendiri adalah nyata? Ataukah itu hanya kebohongan sikap manusia agar dianggap, lebih peduli pada diri sendiri, misalnya? Bila betulan ada, lantas apakah orang tersebut dengan sepenuh hati melakukannya? Ya, sepenuh hati, bisakah?
303. Sebuah film Jerman. Rilis Februari tahun lalu karya Hans Weingartner, berdurasi 145 menit. Menceritakan seorang perempuan idealis yang bertemu dengan pria pragmatis saat dalam perjalanannya menggunakan RV dari Jerman menuju Portugal. Mengambil latar Berlin, Köln, Belgia, Prancis, Spanyol, dan Portugal. Sepintas, orang akan mengira bahwa film drama ini terkesan membosankan dan biasa saja seperti yang sudah-sudah. Nggak, ngga semonoton itu. Bukan dua orang yang tak sengaja bertemu lalu menjalin cinta belaka. Poin penting yang menarik dari film yang dibintangi oleh Mala Emde dan Anton Spieker adalah ketika mereka mulai memperbincangkan dan memperdebatkan soal evolusi (Cro-Magnons, Neanderthal), komunisme, kapitalisme, genetik, ketertarikan, seks, dll. Masing-masing memiliki pandangan berbeda.
Saya tidak akan mengulas film ini secara rinci. Ada hal yang lebih menggoda yang mendorong saya untuk kemudian menuliskannya di blog pribadi. Adalah adegan didalam mobil pada menit 59, yang saya jadikan pembuka di tulisan ini—eksistensi mencintai diri sendiri. Jan lantang mengatakan bahwa tidak ada manusia di bumi yang mencintai dirinya sendiri, dan Jule—perempuan disampingnya—sedikit dipaksa untuk sepakat dengan opini pria tersebut. Benarkah demikian?
Mencintai adalah sebuah kata kerja yang menurut KBBI berarti menaruh kasih sayang kepada seseorang atau bisa jadi benda. Sedangkan mencintai diri sendiri adalah bagaimana cara kita menerima diri sendiri, memiliki pengetahuan akan pribadi kita sendiri, sehingga timbul sikap menghargai dan mengerti akan apa yang diingini. Mudah? Tentu tidak dalam prosesnya.
Manusia yang menerima keberadaan dirinya sendiri akan memaafkan kesalahannya di masa lalu, sebesar apapun, sekecil apapun. Tanpa ada niat mengungkit dan hanya melirik ke belakang sebagai pembelajaran penting agar bersikap lebih bijak. Yang menjadi masalah ialah, apakah benar-benar bisa seseorang melakukan hal itu dengan penuh rela? Sebab penyesalan di kemudian hari dan amarah yang datangnya tiba-tiba pada suatu waktu, itu naluri alamiah. Singkat kata, belum ikhlas, dan apakah hal itu bisa secara real disebut sebagai mencintai diri sendiri? Tidak. Akuilah, pasti ada sedikit kadar kebencian yang kau beri pada dirimu sendiri. Kau tidak bisa memaafkan dirimu seutuhnya. Manusia susah melupa. Jelasnya, kau hanya mencoba melangkah diiringi berulang kali kata ‘andaikan’ dan mengharap kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih baik.
Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk berupa-rupa dan manusia sendiri yang kemudian menetapkan standar kecantikan atau ketampanan seseorang menuju arah yang katanya sempurna. Bahwa yang memiliki bibir tebal lebih menggairahkan, bahwa yang memiliki hidung mancung akan terlihat lebih menawan, yang berotot lebih memesona, dan yang berkulit gelap, ya, tidak ada apa-apanya. Sadarkah yang mengutarakan semua itu adalah kita sendiri? Sadarkah bahwa penerimaan akan bentuk tubuh sebenarnya tidak ada? Tidak ada yang perlu diterima mengenai kekurangan diri sendiri, sebab itu standar dari mereka dan kita didoktrin untuk mengikutinya. Tapi kau bisa lihat ‘kan diluar sana, masih banyak orang yang memperindah dirinya dengan cara ekstrem. Ya, itu hak mereka, saya tahu, pun tidak akan melarang. Lagi-lagi manusia melakukan kebohongan. Mencintai diri sendiri? Omong kosong. Kau mungkin akan mengatakan, hal tersebut sebagai bentuk kepedulian dan merawat diri sendiri. Silakan, tak apa.
Selanjutnya, memiliki pengetahuan akan diri sendiri. Merupakan suatu hal krusial untuk mencintai diri sendiri. Ambil contoh, seseorang yang gemar melukis dan menjadikannya sebagai pekerjaan tetap. Sibuk, menerima pesanan, melukis tiap hari, hingga kesehatannya terabaikan demi keberlangsungan hidup. Membuat diri kita lelah adalah bentuk kelalaian yang sebenarnya dapat dicegah. Lalai terhadap diri sendiri bukanlah perasaan cinta. Seseorang yang tahu dan paham betul apa yang diminati dirinya seperti pelukis tadi, belum tentu bisa mencintai dirinya sendiri, apalagi yang tidak memiliki pengetahuan akan itu. Bukan hanya soal minat, tetapi juga pengaturan emosi, tindakan mengambil keputusan yang tepat, dan kepada siapa sepatutnya kita memberi afeksi, misalnya. Apakah manusia sepenuhnya tahu tentang itu? Tidak.
Paulo Coelho dalam bukunya The Zahir: A Novel of Obsession, berkata bahwa cinta adalah kekuatan liar. Ketika mencoba untuk mengontrolnya, itu menghancurkan. Ketika mencoba untuk memenjarakan, akan memperbudak. Ketika mencoba untuk memahami, malah membuat bingung dan tersesat. Saya akan menjabarkan sedikit. Sebagai kasus, saya amat menyukai kopi, sehari bisa meneguk sampai tiga cangkir. Ja, ich weiβ ganz genau, sangat berdampak buruk untuk kesehatan saya. Tapi, apabila saya mencoba mengontrol dengan tidak meminumnya sama sekali atau maksimal sehari sekali, saya merasa diri saya ada yang kurang, ada yang hilang, karena tidak mengonsumsinya. Ngga lebay, ini beneran. Tidak ada pilihan yang lebih baik. Saya tidak mengonsumsi dengan alasan ingin hidup sehat, disisi lain saya kehilangan kebahagiaan karena kopi adalah sumber bahagia saya. Atau pilihan lain, saya tetap menyesap kopi dengan porsi berlebih, konsekuensinya kesehatan saya memburuk. Dapat disimpulkan bahwa saya tidak mencintai diri saya, ‘kan?
Terdapat bermacam-macam bentuk mencintai. Banyak. Dengan mencintai pula, terkadang manusia dibuat bingung. Eksistensi mencintai diri sendiri? Tidak ada. Kita hanya berproses menuju itu.
—Situbondo, 15 Mei 2019

Comments
Post a Comment