Menjelajah Masa Lalu atau Menelusuri Masa Depan?

Sains bermula dari ketiadaan. Bermula dari dorongan keingintahuan sejarah-sejarah lalu, dari kerumitan yang tercipta disekitar, dari manusia yang menginginkan kemudahan dalam hidupnya. Bahasa bermula dari ketiadaan. Bermula dari pikiran yang mendesak untuk disuarakan. Muncul dari pengaruh lingkungan dan kebudayaan sebagai bentuk komunikasi semua makhluk. Pun, saya, bermula dari ketiadaan. Lebih jauh lagi sebelum sains, bahasa, dan saya, terdapat lorong panjang yang jika ditelusuri entah membutuhkan waktu tempuh berapa lama untuk mengetahui asal-muasal: jagat raya.

Ketika Tuhan berbaik hati memberi pilihan antara dua kemampuan istimewa, menjelajah masa lalu atau menelusuri masa depan, mana yang akan dipilih?


Menjelajah masa lalu nampaknya akan sangat menyenangkan bagi saya. Menutup mata kemudian membayangkan flying back to the beginning of time: no particle, no dust, no star. All nothing.

Saya harus melesat cepat menuju tepi permualaan diciptanya semesta. Melupakan sejenak film dokumenter National Geographic: Journey to the Edge of the Universe, sebab sekarang, saya melakukan perjalanan itu sendiri. Bertemu dengan M31 dan menyampaikan sedikit salam perkenalan kepada penduduk disana. Ah, memangnya mereka mengerti bahasa saya?

Hal paling menarik dari perjalanan menjelajah masa lalu adalah dapat menyaksikan awal mula rancang agung semesta. Tentang bagaimana tangan Tuhan meyajikan keindahan dan meniupkan kemisteriusan didalamnya. The moment of creation. Dari titik nol.

Disudut kegelapan saya berdiri sembari memikirkan kemungkinan. Mungkin, tidak akan lahir banyaknya teori awal mula pembentukan semesta, seperti teori dentuman, teori ekspansi dan kontraksi, teori cretio continua yang diajukan oleh Fred Hoyle, hingga teori paling terkenal—big bang. Semua teori-teori itu tidak akan ada jika saya diseret ke masa lalu. Terganti dengan yang lebih akurat, bukan lagi sebuah teori. Bisa Anda bayangkan, ketika nanti anak saya bertanya asal mula semesta yang maha luas ini, akan saya ceritakan padanya tanpa ada sedikitpun rasa skeptis dan tidak perlu repot mendongeng satu per satu teori yang kebenarannya belum pasti.

Dari kejauhan saya akan melihat kawan-kawan lama yang pada waktu selanjutnya mengharuskan kami berpisah menjadi seasing ini. Berjarak jutaan tahun cahaya. Kawan yang tidak saling mengenal dengan peradaban yang, tentu, berbeda. Bisa jadi mereka lebih hebat dari segi perkembangan teknologi sehingga bisa mengintip seluruh aktivitas penduduk Bumi dan menertawakan betapa bodohnya kita. Bisa jadi, di galaksi lain, seorang kawan lama baru saja selesai mendengar siaran radio bahwa Willi Herold akhirnya dieksekusi. Sebuah berita yang tiba terlambat, 73 tahun lalu.

Mungkin sebagian ada yang bertanya, buat apa saya sebegitu inginnya menjelajah masa lalu? Bukankah menelusuri masa depan kiranya lebih menguntungkan sehingga dapat mempersiapkan kemungkinan terburuk?

Jawaban saya sesederhana ini: Saya berada di tempat ini karena masa lalu. Lahir karena ulah sang waktu. Memiliki setumpuk pertanyaan yang meminta segera dituntaskan lewat akal. Manusia sebetulnya telah berusaha memahami dengan pengetahuan dan kemampuannya yang terbatas. Also, curiosity, still exists.

Dan mengenai masa depan, siapa sih yang tidak penasaran untuk mengetahuinya? Apakah Bima Sakti dan Andromeda benar-benar bertubrukan nantinya? Kapan tepatnya Matahari memasuki tahap katai putih? Akan seperti apa semesta berakhir?

Tiga pertanyaan yang agak mengerikan. Menyebabkan kehancuran masif, kehilangan yang besar, masa dimana nalar-nalar liar manusia terhenti. Apakah Anda sanggup membayangkan apabila diberi kemampuan istimewa ini—menelusuri masa depan?


—Situbondo, 28 Mei 2019

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran