Gracias
Terima kasih, gracias dalam bahasa Spanyol, adalah ucapan yang betulan ingin kuutarakan secara langsung hari ini pada seorang pria kelahiran Jawa Timur, yang sosoknya juga pernah kuposting sebelumnya. Tulisan ini terinspirasi dari lagu Nicky Byrne yang berjudul sama, Thank You. Bagian lirik “New York”nya aku ganti dengan kota yang sekarang kamu tinggali sementara.
Semalam aku dirundung perasaan kurang mengenakkan, kangen kali ya, wkwk. Berawal dari kamu yang tiba-tiba hadir sebagai bunga tidur di siang bolong ketika aku sedang menginap di rumah tante tepat dua hari lalu. Mimpi yang seolah-olah menjadi jawaban riang atas uring-uringan nggak jelasku dari bulan kemarin.
Sebuah pelukan. Aku dapatkan setelah lama nian tanpa jumpa dan komunikasi. Tergambar jelas bagaimana kedua lenganku memeluk tubuhmu dengan wangi parfum di leher yang sangat khas. Entah, aku tidak tahu mengapa mimpi terkadang bisa meredakan setumpuk emosi manusia dalam bentuk delusi yang hampir menyerupai nyata.
Aku berterima kasih atas apa-apa yang pernah, yang segalanya melibatkan berdua tanpa pernah menjadi kita yang sesungguhnya, menjauh dari utuh bersama.
Waktu mengambil perannya sendiri, ruang menjebak. Pada rentang masa tersebut, ketahuilah, sama sekali tidak ada sesal untuk berada di tiap tahap proses mengetahui, mengenal, menguntit informasi dari media sosial, hingga puncaknya menjadi teman diskusi dan bercerita. Bagiku, itu amat berkesan sekaligus menantang.
Terima kasih telah merekomendasikan aplikasi Sky Map kepadaku. Dengan bantuan aplikasi tersebut aku tak perlu repot mencari letak Sirius, Arktur, dan Spica, lalu memandanginya kalau-kalau merasa gelisah tengah malam. Kamu paham betul bahwa langit malam adalah dopping terbaikku dibanding semburat oranye.
Untuk momen yang paling aku suka sepanjang pernah berada disebelahmu, di sebuah tanah lapang menggoda makhluk lain, Jupiter, sungguh, aku berterima kasih. Aku tidak tahu apakah nanti dapat menikmatinya lagi dengan orang yang sama, denganmu. Disaat orang lain mencoba menenangkan kacauku dengan cara yang kurasa basi, kamu malah mendongakkan kepalaku ke arah sinar Musytari. “Kamu serupa debu, permasalahanmu tak lebih besar dari debumu sendiri. Malulah dengan Jupiter yang ngga pernah ngeluh tiap harinya berotasi selama sepuluh jam. Langit maha luas, berharmoni, pula yang ada didalam dirimu.” Sebuah nasihat untukku mengusap jenuh realita malam itu.
Pada akhirnya, aku mengakui, kita sama-sama brengsek. Bukankah teman harusnya tidak mengambil porsi lebih dalam hal rasa? Baik kamu maupun aku semestinya berada pada ketidakyakinan.
I never trust in love, so do you.
I never trust anybody, so do you.
Sayangnya, dua kalimat diatas hanya pemanis yang perlahan dilanggar oleh kedua penuturnya sendiri. When love comes, it comes. Keteguhan terkadang bisa dipaksa hancur hanya karena pemberian kasih yang sebenarnya tipuan belaka. Sudah. Menyerah kita.
Aku kalah telak dari lelucon-lelucon bahasa Jerman buatanmu (e-Freizeit). Aku tidak bisa memenangkan diriku sendiri dari kagumnya bantahan ilmiahmu itu. Aku harus menyembunyikan telepon genggam agar tidak terus-menerus mengetahui detil aktivitasmu lewat Whatsapp, Line, Instagram, dan Twitter yang dulunya tiap hari aku untit. Aku menjauh untuk membangun kokoh kembali dua ucapku tadi.
Perempuan seringkali dipenuhi gengsi, demikian aku.
Awalnya aku ingin menulis ini menggunakan salah satu bahasa Eropa yang aku pelajari dibangku kuliah dengan alasan agar lebih leluasa mengungkapkan. Biar kamu ngga ngeh. Ingin dinotice, tapi akunya ngga mau kena malu. He he he.
Aku harap akan ada pertemuan berikutnya sebagai teman biasa. Mungkin, Oktober akhir kamu bisa main ke kampusku, sekalian memeriahkan acara Deutsche Tage 2019 di gedung D7 dan D8. Atau, kita bisa jumpa di kotamu saat ada pemutaran German Cinema oleh Goethe Institut di bulan Oktober dan biasanya aku kesana. Soon, ya!
Con gracias repetidas.
Tulisan terakhir sebelum kembali ke Malang, Minggu esok.
—Situbondo, 17 Agustus 2019
Comments
Post a Comment