Luther: Sebuah Ulasan Film
Perubahan tidak akan terjadi tanpa adanya keyakinan dan keberanian yang besar. Hal ini tercermin dari diri seorang Martin Luther dalam film berjudul sama yang rilis pada tahun 2003. Berlatar belakang abad ke-16 yang merupakan titik awal reformasi yaitu pembaharuan yang berorientasi pada agama, Eric Till sebagai sutradara berhasil menyuguhkan visualisasi kondisi bangsa Eropa yang saat itu baru saja terbebas dari Abad Kegelapan (The Dark Age). Gereja bergaya gothik, pakaian kaisar yang melambangkan maskulinitas, penyebaran buku dan ilmu pengetahuan secara pesat setelah ditemukannya mesin cetak, dan kendaraan kereta kuda, adalah faktor pendukung penting film ini. Sayangnya, latar kota Erfurt, Wittenberg, Worms, dan Roma tidak tergambar secara detail. Mata penonton hanya dimanjakan oleh suasana didalam gereja dan ornamen-ornamen yang menghiasinya.
Adegan dimulai dengan Luther yang meminta pertolongan keselamatan kepada Tuhan saat dirinya terjebak ditengah hujan lebat disertai petir. Dari kejadian itu, Luther kemudian berjanji untuk menyerahkan seluruh hidupnya dengan menjadi biarawan di sebuah gereja. Disinilah konflik berawal, sebagai seorang yang beriman dan mampu berpikir logis, lelaki kelahiran Eisleben tersebut kemudian mulai mengalami pergolakan batin hebat terhadap doktrin-doktrin yang diterapkan oleh gereja yang menurutnya tidak masuk akal meliputi, penatapan relik suci, pembelian surat pengampunan dosa (indulgensi) untuk purgatory, ziarah ke tempat suci, dsb.
“Orang Kristen harus diajarkan bahwa dia yang memberi kepada orang miskin atau meminjamkan kepada yang butuh lebih baik daripada dia yang membeli pengampunan dosa.”
Joseph Fiennes menurut saya, sudah mampu memerankan sosok Luther dengan baik. Dibuktikan saat bagaimana ia sangat marah dengan dirinya sendiri di sebuah ruangan gelap seakan-akan jiwanya telah dikendalikan oleh iblis. Sisi lemah lembut dan kepeduliannya juga bisa terlihat dari perlakuannya kepada Hanna, Grete, dan istrinya Katharina von Bora yang diperankan oleh Claire Fox. Kekurangan film yang diproduseri oleh Rochow terletak pada banyaknya istilah yang mungkin masih asing di telinga penonton.
Salah satu pesan moral yang bisa diambil ialah sifat bijaksana dari Frederick (Elektor Sachsen). Lazimnya, seorang yang memiliki kedudukan tinggi akan bertindak semena-mena kepada rakyat dibawahnya. Tidak dengan Frederick, ia mencoba melindungi warganya (Luther) dengan menolak pemberian suap dari utusan Roma berupa mawar paling suci yang dikonsekrasi setiap tahun. Putra dari Ernest ini rupanya lebih mendukung pemikiran Luther dengan tidak menyerahkannya kepada penguasa Roma.
Selama 123 menit film berlangsung, tentu terdapat satu adegan yang menyita perhatian saya. Yakni, menit ke-79, ketika Luther sedang berada di pengadilan dan berkata bahwa dirinya tetap tidak mau menarik kembali akan karya-karya yang sudah ditulisnya. Setelah kejadian tersebut, dia akhirnya berhasil menerjemahkan Bibel dan menyusun bahasa Jerman Hochdeutsch. Tokoh yang sangat berjasa dalam membersihkan campur-baurnya bahasa Jerman dengan istilah-istilah bahasa asing. Eine Reformation.
Mengapa film ini layak ditonton? Mengetahui peristiwa sejarah dapat membuat manusia lebih bijak dalam berpikir dan bertindak. Banyak nilai-nilai kemanusiaan yang bisa ditiru, seperti kebenaran yang harus ditegakkan, giat mempelajari hal-hal baru, menolong tanpa memandang status. Agar tidak kebingunan mengikuti alur cerita, baiknya, penonton membaca sinopsinya terlebih dahulu dan mengenal sedikit istilah-istilah yang ada pada agama Katolik supaya mempermudah pemahaman disetiap adegan.
Sebagai penutup, beriman adalah perihal memilih. Jangankan pihak yang berkuasa dan memiliki otoritas, manusia sendiri pun tidak diperkenankan mengatur dan memaksa kepercayaan yang orang lain pilih.
—Malang, 20 September 2019



Comments
Post a Comment