Mengenal Legenda Irlandia Melalui Puisi Tristan Karya Platen pada Periode Romantik

Romantik, salah satu epoche dari periodisasi sastra di Eropa, khususnya Jerman, yang berlangsung antara abad ke-18 hingga ke-19. Revolusi industri yang menyebabkan maraknya urbanisasi, membuat para penyair pada masa itu banyak menulis mengenai tema alam dan kehidupan pribadi dengan sangat emosional. Penyair juga berusaha menuangkan idenya secara bebas dengan meninggalkan kaidah penulisan karya sastra di masa sebelumnya.

Menurut Fathurrahman Rauf (1995), kemunculan sastra Romantik sebetulnya merupakan reaksi terhadap sastra Klassik, baik dalam segi prinsip maupun kaidahnya. Kehadiran sastra Romantik bertujuan merombak prinsip-prinsip maupun kaidah-kaidah sastra Yunani dan sastra Latin Kuno sehingga dengan sastra Romantik, kejeniusan seseorang dapat tumbuh dan berkembang tanpa ikatan dan hambatan.

Tristan adalah salah satu contoh puisi yang ditulis oleh August von Platen pada periode Romantik. Penulisan puisi tersebut didasarkan pada salah satu legenda yang cukup terkenal dari Irlandia, yakni Tristan dan Isolde. Dari puisi yang Platen tulis, Anda dapat membayangkan situasi emosional seperti apa yang terjadi saat itu. Berikut isi dari puisi tersebut.

Wer die Schönheit angeschaut mit Augen,
Ist dem Tode schon anheimgegeben,
Wird für keinen Dienst auf Erden taugen,
Und doch wird er vor dem Tode beben,
Wer die Schönheit angeschaut mit Augen!

Ewig währt für ihn der Schmerz der Liebe,
Denn ein Tor nur kann auf Erden hoffen,
Zu genügen einem solchen Triebe:
Wen der Pfeil des Schönen je getroffen,
Ewig währt für ihn der Schmerz der Liebe!

Ach, er möchte wie ein Quell versiechen,
Jedem Hauch der Luft ein Gift entsaugen
Und den Tod aus jeder Blume riechen:
Wer die Schönheit angeschaut mit Augen,
Ach, er möchte wie ein Quell versiechen!

Isolde merupakan putri raja Irlandia yang kecantikannya menarik perhatian Raja Mark dari Cornwall dan mereka pun dijodohkan. Raja Mark kemudian mengutus Tristan untuk menjemput Isolde ke Cornwall. Pertemuan pertamanya dengan Isolde membuat Tristan langsung jatuh cinta, Isolde pun demikian karena Tristan memiliki paras yang tak kalah tampan. Namun, lantaran perjanjian pernikahan antar dua negara tersebut tidak dapat dibatalkan, Raja Mark dan Isolde tetap menikah. Meski begitu, Tristan dan Isolde tetap menjalin kasih secara diam-diam dan suatu ketika Raja Mark mengetahui akan peristiwa tersebut. Ia sangat marah besar dan mengusir Tristan dari Cornwall. Di Britania, Tristan bertemu dengan seorang wanita yang memiliki banyak kemiripan dengan Isolde, ia adalah Iseult. Tristan ingin menikah dengan Iseult agar perlahan bisa melupakan sosok Isolde. Akan tetapi, niat tersebut diurungkannya karena rasa cinta dirinya terhadap Isolde begitu besar. Pada akhirnya, karena kesedihan yang mendalam Tristan jatuh sakit dan bunuh diri dengan racun yang selama ini disimpan di kantong sakunya. Tak lama kemudian, Isolde datang dan merasakan patah hati yang mendalam sebab orang yang dicintainya meninggal. Ia pun mengecup Tristan yang di tubuhnya masih tersisa racun. Kisah cinta Tristan dan Isolde berakhir dengan kematian.

Pada paragraf pertama, Platen menjelaskan bahwa seseorang yang memandang keindahan dengan mata (indra) akan mendekati akhir hidupnya. Hal ini tergambar pada sosok Tristan yang jatuh cinta kepada Isolde karena kecantikan parasnya sehingga membawa pasangan tersebut menjumpai takdir kematian. Keindahan yang dirasakan atau dinikmati oleh indra manusia dapat menciptakan nestapa bagi seseorang. Platen bahkan menegaskan hingga dua kali kalimat „Wer die Schönheit angeschaut mit Augen“ pada baris pertama dan terakhir paragraf pertama. Seolah-olah ingin menekankan bahwa indra manusia memiliki dampak buruk bagi dirinya sendiri. Bila dikaitkan dengan pembabakan puisi, terdapat satu kata di paragraf pertama yang menjadikan puisi ini tergolong pada era Romantik, yakni „Tode“ yang dalam bahasa Indonesia berarti kematian.

Sisi emosional yang merupakan ciri khas periode Romantik banyak tersaji di paragraf kedua. Gambaran mengenai kesedihan mendalam saat mencintai seseorang yang tidak dapat dimiliki secara utuh terdapat pada baris „Ewig währt für ihn der Schmerz der Liebe“ yang mengalami pengulangan sebanyak dua kali. Tristan dan Isolde yang baru pertama kali bertemu dan keduanya langsung jatuh cinta, tidak dapat hidup bersama lantaran adanya perjanjian antar dua negara. Dengan demikian, bentuk ekspresi rasa cinta yang merupakan naluri alamiah manusia, harus mereka jalani secara diam-diam di Bumi.

Kalimat „Ach, er möchte wie ein Quell versiechen“ pada baris pertama dan terakhir paragraf penutup menerangkan tentang Tristan yang menginginkan agar kehidupan cintanya berjalan baik, seperti mata air yang mengalir. Pengandaian disingkirkannya racun yang menandakan berakhirnya kisah cinta Tristan dan Isolde adalah cara Platen berimajinasi di puisi ini.

Terdapat tiga unsur dominan dalam Tristan, yaitu keindahan, cinta, dan kematian, dimana ketiganya merupakan ciri khas puisi periode Romantik. Platen dapat mewakilkan perasaan sedih Tristan yang sangat mendalam pada puisi ini dengan jelas dan padat sehingga hati para pembaca tersentuh. Banyak nya pengulangan kalimat dimaksudkan untuk menekankan situasi yang sedang dialami Tristan: suram, kecewa, dan sedih.

Bentuk keindahan yang melekat pada diri manusia dan ditangkap oleh indra manusia lain bisa menjadi sumber penderitaan yang berlangsung selamanya. Tristan tidak dapat memiliki orang yang dicintainya secara utuh dan bebas. Karena tekanan batin dan siksaan rasa cinta yang tidak telampiaskan, ia kemudian memilih bunuh diri dengan meneguk racun. Isolde pun ikut memilih mengakhiri hidupnya. Sebuah legenda dari Irlandia yang amat dramatis dituangkan oleh Platen melalui puisi Tristan.

Sosok August von Platen sendiri adalah seorang penyair dan dramawan Jerman yang lahir pada 24 Oktober 1796, putra dari Oberforstmeister (pelayan publik senior). Bakat puitis awal dibuktikannya saat memasuki sekolah taruna (Kadettenhaus) di Munich, Bavaria. Tahun 1818, Platen tercatat sebagai mahasiswa filsafat dan filologi di Universitas Würzburg yang kemudian berpindah ke Universitas Erlangen dan menerbitkan puisi Ghaselen (1821) sebagai hasil dari studi orientalnya.



Datar Pustaka:
Mahoney, Dennis. 2003. The Literature of German Romanticism. Woodbridge: Boydell & Brewer
Rauf, Fathurrahman. 1999. Memperkenalkan Macam-macam Aliran dalam Sastra. 5(8), 15-28

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran