To the Edge of the Universe

Dark, it is dark. And still, I haven’t seen the light at the end of the tunnel.

Kebohongan. Kepercayaan. Kepanikan. Kasih sayang. Kebodohan. Melekat dalam diri tiap individu membentuk energi negatif—trauma. Kiranya manusia telah terbiasa bersinggungan dengan hal itu. Terlewati. Dan ya, kembali terjadi. Ein Zyklus.

Dua puluh satu tahun dibesarkan dari keluarga yang mulanya baik-baik saja menjadi yang tidak “seharusnya”, aku yakin banyak orang menganggap hal tersebut sebagai permasalahan biasa. Demikian aku, sudah tidak peduli lagi akan kejadian itu. Penerimaan adalah cara terbaik.

Lalu, selesai? Tidak.

Ada banyak konsekuensi lain yang harus dihadapi, terutama dalam hal psikis. Isu kepercayaan mulai berkurang semenjak itu. Menjadi sosok Moniq yang sangat mencurigai sesuatu, menyangkut teman dan pasangan. Tiga kali menjalin hubungan dengan yang sebelumnya dibumbui kebohongan, selalu. 2014. 2017. 2018.

---

Aku kemudian tumbuh, menjadi perempuan yang sulit menaruh afeksi, kerap mempertanyakan eksistensi cinta. Kind of shit. Kasih sayang, adalah hal yang paling kupikir ulang untuk kuberi pada orang lain. Dengan keadaan yang berangsur pulih, sudah cukup bagiku untuk tidak menerima segala macam afeksi.

Well, nyatanya manusia tidak dapat memperkirakan, ya. Pertahanan itu runtuh. Hancur.

Kamu tetiba menemukanku. Memiliki ketertarikan serupa—kecintaan terhadap kopi, sepak bola, dan buku. Bagaimana pertahanan seorang perempuan tidak runtuh apabila dirinya menemukan yang sefrekuensi? Ya, aku mencoba membuka diri. Untukmu, tentu.

Vibes positif banyak kuterima. Memacuku menghabiskan tujuh buku sekaligus dalam kurun singkat. Memberiku informasi akan aksen-aksen bahasa Inggris. Menyaksikan wajah kita penuh dengan olesan masker kopi. Saling membully saat Liverpoolmu atau Barcaku yang kalah. Berlama-lama di Gramedia untuk memilih buku meski tak satupun jadi dibeli. Mengajakku makan tengah malam di daerah Sigura-gura, pun mie ayam yang menurutmu enak itu. Menyaksikan film 1927 yang sepulangnya kamu mengomeliku untuk tidak bolos kuliah lagi. Menyuguhkanku kopi saat sedang menyelesaikan tugas-tugas kuliah di tempat tinggalmu, agar aku dapat konsentrasi, katamu.

Entahlah, denganmu aku merasa tercukupi akan bahagia dan duka. Seperti zarah dan antizarah, yang saling melengkapi. Berbagi untuk hal yang tidak aku mampu.

Hingga akhirnya hal itu terjadi. Kegelapan membuatku panik, bertindak ceroboh. Siklus traumaku kembali terulang.

Aku masih bertaruh dengan waktu. Masih bertaruh dengan kebodohan yang baru saja kulakukan. 

Dan aku masih,
mencintaimu.

“I love you to Neptune,”
“to the edge of the Universe.”
“Semesta tak memiliki tepi,
“namun memiliki akhir.”

(Dialog Februari lalu, depan hunianku)



—Malang, 22 Maret 2020

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran