Jelma. Jurnal. Jejak.

Sore hari saat sedang bersantai di atas tempat tidur, saya menerima kabar baik tersebut. Sesuatu yang telah lama dinantikan. Saya pikir nomor asing itu menyampaikan sebuah informasi seperti yang sudah-sudah, sebabnya saya tidak segera membaca pesan apa yang telah dikirimnya. Namun, perkiraan saya keliru.

Sepoi angin dari jendela barat memasuki cela-cela kamar, cuaca sedang cerah-cerahnya dan kabar baik itu akhirnya tiba pada sang pemilik. Ya, sejenak saya memberanikan diri membuka aplikasi pesan instan dengan logo berwarna hijau.

Sebuah ucapan selamat.

Awal Mei lalu saya melempar banyak lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan sebagai kru restoran, kasir, termasuk penulis konten berbasis pengoptimalan mesin telusur atau yang biasa dikenal dengan Search Engine Optimization (SEO). Inisiatif dari diri sendiri karena muak di tengah kondisi pandemi dan ya, saya perlu menambah pundi-pundi alat tukar-menukar barang. Keadaan gabut pasca UAS, ingin ‘sedikit’ mandiri dalam hal finansial dan menambah pengalaman agaknya juga menjadi tiga latar belakang logis mengapa saya memutuskan untuk bekerja. Tahun lalu sebenarnya sudah mencoba, but, it didn’t work at all. Akhirnya, hanya fokus berkuliah dan menjadi staf KOMINFO di organisasi daerah saya.

21 tahun penantian. Mendapat pekerjaan pertama yang dulunya sempat dianggap remeh oleh ibu sendiri, di mana saya juga tidak memperoleh dukungan penuh atas bakat dan minat dari sang ayah. Lebar-lebar, pintu pembuktian itu terbuka. Segarnya udara menyentuh kulit yang ingin diguyur suka. Pesan tersebut menyampaikan sinyal baik bahwa saya diterima menjadi penulis berbasis SEO. Sengaja tidak memberi tahu kedua orang tua dan hanya menangkap layar chat kemudian mengirimnya pada pasangan, sekaligus sebagai orang pertama yang mengetahui hal ini.

“Every individual grows at a different pace.

Kurun waktu yang lama memang, mencoba membandingkan dengan adik sepupu yang sudah bekerja di usia ke-18, saat pasangan saya menerima penghasilan pertamanya pada tahun 2015, ketika teman bangku kuliah yang menempuh semester II telah mampu menghidupi dirinya sendiri. Pendahuluan yang membuat saya cukup minder. Malu rasanya bila ditanya soal kesibukan dan finansial. Refleks mengingat bahwa di tahun-tahun sebelumnya, saya banyak melakukan hal-hal tidak berguna, pun terlalu memanjakan diri sendiri. Segera saya sadar akan bingar stagnasi yang perlahan saya coba redam riuhnya. Terlambat. Namun, sudahlah, tak apa. Kecepatan individu satu dengan yang lainnya dalam meraih suatu hal itu berbeda.

Berprofesi sebagai penulis SEO tidaklah sama dengan penulis konten di blog pribadi, hanya fleksibel pada waktu dan tempat pengerjaan. Tantangan baru, semaksimal mungkin menyesuaikan dengan mesin telusur dan kata kunci konten yang telah ditentukan oleh klien tetap. Adaptasi. Belajar atas apa yang belum diketahui. Antusiasme. Toh, ini merupakan pekerjaan impian saya. Tidak masalah jika harus repot-repot meriset hingga mencapai syarat angka minimum LSI dan menulis artikel yang tidak sesuai dengan keingingan dan pandangan pribadi.

Ya, segalanya bermula dari salur hobi, dari patah hati berulang, kopi-biru (sekarang berganti moniqcla) menemani perjalanan saya meraih pulih. Sebuah tempat virtual di mana saya tumbuh hingga akhirnya mencapai titik ini. Menjadi pengaduan dan pelarian ketika nanti, barangkali saya ingin menyuarakan kebebasan pikiran.

“For work, u don’t have to love it, you just gotta be really good at it. Passion should be ur sweet escape.” — Mbak Icha

“Tekanan deadline tugas kuliah dengan kerjaan itu berbeda.” — Mas D.

Dua kutipan di atas kiranya cukup menjadikan blog ini sebagai:

Jelma. Jurnal. Jejak.



—Situbondo, 31 Mei 2020

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran