Menyelisik Tapak Jejak Kerajaan Kutai Martapura
Tapak jejak eksistensi kerajaan pertama di Nusantara dapat diketahui dari berdirinya Kerajaan Kutai—Kutai Martapura. Berdiri sejak abad ke-5 atau 400 M, kerajaan yang terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam ini bercorak agama Hindu dan menganut kepercayaan animisme—memuja roh atau jiwa yang terdapat pada benda-benda tertentu. Tidak adanya kejelasan informasi membuat para ahli sejarah kemudian memberikan nama “Kutai” berdasarkan keterangan dari tulisan yang diukir di atas batu—prasasti—yang menunjukkan letak keberadaan kerajaan tertua itu.
Selain dari prasasti, riwayat mengenai kerajaan yang bersangkutan diperoleh dari tujuh buah yupa, yakni sebuah tugu atau monumen yang berisi tulisan dan dibuat secara khusus oleh kaum Brahmana untuk kerajaan Hindu di Kutai. Yupa memiliki tiga fungsi utama, antara lain sebagai media informasi, tugu untuk mengikat hewan saat upacara keagamaan dan lambang kemuliaan raja atas kebaikan yang telah dilakukan. Dari penjelasan salah satu yupa yang ditemukan, dikisahkan bahwa Raja Mulawarman yang pernah memimpin Kerajaan Kutai pernah menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana sebagai korban. Pada yupa lain juga diceritakan bahwa ia menyelenggarakan kenduri emas untuk selamatan umat Hindu. Atas kedermawanan raja Mulawarman tersebut, maka dibangunlah beberapa yupa oleh kaum Brahmana sebagai bentuk penghormatan.
Tercatat ada 21 raja yang pernah menduduki posisi sebagai pemimpin kerajaan. Tiga raja diantaranya sangat terkenal pada masanya, yakni Raja Kundungga, Raja Aswawarman dan Raja Mulawarman.
Kundungga
Benar, publik terlanjur mengenal dengan nama “Kudungga”, tanpa sisipan huru “n” di dalamnya. Pada tahun 1918, seorang pakar dari Belanda bernama Vogel, mengoreksi transliterasi yang tertera pada yupa itu sehingga penulisan ejaan yang benar adalah Kundungga, bukan Kudungga.
Kutai Martapura yang dipimpin oleh Kundungga pada mulanya belum memiliki sistem pemerintahan yang konkret dan resmi, karena Raja Kundungga hanya berkedudukan sebagai seorang kepala suku. Semenjak adanya transaksi perdagangan internasional, pengaruh perkembangan sistem pemerintahan yang berasal dari India perlahan mulai diterapkan di Kalimantan Timur. Struktur pemerintahan berubah dari kelompok suku menjadi kerajaan dimana pergantian raja selanjutnya dipilih secara turun-temurun.
Aswawarman
Wilayah kekuasaan berhasil diperluas saat kepemimpinan diambil alih oleh Raja Aswawarman yang bergelar Wangsekerta—pembentuk keluarga. Hal ini dilakukannya dengan cara mengadakan upacara Asmawedha, yakni upacara yang berasal dari India dengan cara melepas kuda untuk menentukan batas wilayah. Aswawarman memiliki tiga orang putra, dimana salah satu dari tiga putranya tersebut mampu memimpin kerajaan hingga mencapai puncak keemasan, ialah Mulawarman.
Mulawarman
Banyaknya yupa yang ditujukan kepada Raja Mulawarman menunjukkan kesuksesan dirinya memimpin Kerajaan Kutai Martapura. Pada eranya, ia banyak menyumbangkan minyak, air suci, emas, biji wijen, malai bunga serta berpuluh ribu sapi saat upacara keagamaan berlangsung. Atas kedermawanan tersebut banyak rakyat setempat menyegani sosoknya itu. Wilayah kekuasaan kerajaan juga meluas hingga mencapai hampir seluruh Kalimantan Timur, sehingga tak ada satu pun rakyatnya yang tidak merasakan kesejahteraan.
Runtuhnya Kerajaan Kutai Martapura
Setelah mengalami proses panjang dalam membangun, mengubah sistem pemerintahan dan meraih puncak kejayaan, pada akhirnya Kerajaan Kutai mengalami keruntuhan pada masa Raja Dermarsetia. Ia menghadapi kekalahan dalam perang melawan Raja Kutai Kertanegara ke-8, yakni Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Terbunuhnya Dermasetia menjadi tanda berakhirnya kerajaan Hindu tertua yang pernah berdiri di Nusantara. Ia sekaligus menjadi raja terakhir yang berkuasa di kerajaan tersebut.
Meski telah mengalami kemunduran, Kerajaan Kutai telah banyak memberi sumbangsih terhadap perkembangan Nusantara. Dampaknya dapat dirasakan dari segi sosial budaya, politik, serta agama, diantaranya penulisan dan penggunaan bahasa Sanksekerta—yang merupakan bahasa Hindu asli dengan menggunakan huruf Pallawa—pada prasasti dan yupa, penyelenggaraan upacara bernuansa agama Hindu, perubahan sistem kepala suku menjadi sistem pemerintahan yang dipimpin oleh raja dan meluasnya sebaran agama Hindu sebagai agama pertama yang dianut oleh penduduk Nusantara setelah sebelumnya hanya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Pengaruh signifikan tersebut menjadi bukti betapa pentingnya eksistensi Kerajaan Kutai Martapura pada masa itu; memunculkan peradaban, mencipta harmoni dalam perbedaan dan menghasilkan individu yang berbudaya seperti sekarang ini. Ya, Kutai Martapura adalah kunci permulaan berdirinya Nusantara yang tentunya sangat menarik untuk diselisik ulang sebagai bahan renungan dan pengetahuan bahwa bangsa ini tak luput dari keberagaman dan kekayaan akan sejarah dan alam.
—Malang, 13 Mei 2020
Comments
Post a Comment