Neptune

The sun rises and the day starts again.

Tidak pernah ada yang mudah ketika kau mencoba melepaskan, merelakan dan kembali pada kebiasaan-kebiasaan awal saat sebelum bersamanya.

Hari ini aku tetap berjalan menuju suatu titik hingga hilang gelisah yang betumpuk dalam tubuh. Untuk kemudian melanjutkan sebuah akuisisi, atau paling sialnya, menemukan titik petualangan yang benar-benar baru. Tak ada yang pernah berhenti. Tidak. Sebab, menyerah bukanlah wujud dari individu yang dianugerahi sebaik-baiknya akal.

Hak dan kewajiban, telah tiba pada masaku untuk tak lagi terikat pada keduanya. Aku ingin mengingatkan bahwa segala peristiwa memiliki durasi. Bukankah tak ada yang kekal kecuali energi?

Januari lalu, setidaknya, aku menjadi perempuan yang paling merayakan suka ketika kembali ‘ditemukan’. Melalui sebuah platform salah satu sosial media, seorang lelaki yang lahir empat tahun lebih awal tetiba menyapa. Sebuah foto di gedung Fakultas Sastra pasca event Deutsche Tage membawa kami pada sebuah percakapan yang sangat renyah.

Sebagai seorang INTP yang keras kepala, aku menganggap bahwa dialog yang terlontar kala itu hanya sebuah bual. Persuasif. Satu kesalahan yang sangat fatal kulakukan adalah terlalu mempercayai ucap seseorang. Kau mungkin tahu bagaimana rasanya menerima lontar kata ‘siap dalam menunggu dan bertanggung jawab’ dari lawan jenis.

Bagaimana mungkin aku tidak berpikir, setidaknya, untuk mengatakan bersedia mencoba? Setelah dua tahun berangsur pulih.

Berusaha meyakinkan diri. Kami memulai. Dengannya, aku meletakkan harap untuk yang ‘paling akhir’. Dengannya, kupikir akan tiba pada pemberhentian. Pula dengannya, berkeinginan untuk mencapai sebuah ambisi dengan saling menguatkan tanpa mengintervensi. Dua pribadi yang memiliki banyak beda saling berusaha lebih rekat agar hilang sekat.

Tertanam banyak ingat yang sengaja kurawat hingga saat ini. Tanpa janji apapun mengenakan pakaian serupa berwarna abu. Ya, 18 Januari lalu. Lepas dirinya pulang dari kantor, lepas aku kembali jumpa dengan Terminal Arjosari di awal tahun, kami bertemu untuk pertama kali.

Biar di sini kuberitahu akan hal apa yang paling berkesan bagiku. Ketertarikan akan buku pernah membawa kami berencana membangun sebuah usaha, bukabuku. Sebuah logo berwarna oranye telah didesain olehnya. Nama penerbit, nomor-nomor penting, informasi mengenai harga, pendistribusian dan hal-hal lain juga terekap dalam buku catatan. Di Kafe Pustaka dengan dua cangkir robusta yang tersaji pasca hujan, terjadi sebuah perbincangan menarik soal kelanjutan “anak” yang akan dilahirkan. Kelak, aku berjanji akan melanjutkan impian kami yang belum terlaksana itu. Tak apa, meski aku yang bertindak sendiri.

Sebab aku percaya, bentuk ekspresi cinta, terkadang, tidak hanya melalui sentuhan fisik, dukungan mental dan pemberian segala wujud emosi. Impian juga memiliki peran signifikan.

Untuknya, yang sekarang mengantarkanku kembali pada tegar dan ikhlas, aku ingin mengucap terima kasih atas kesempatan-kesempatan yang pernah. Kesempatan untuk merawat dalam kurun sehari semalam saat kondisinya jauh dari sehat, menjadi perempuan yang paling khawatir ketika itu. Beruntung, bersamamu aku diberi sebuah momentum menjelajah buku-buku di Gramedia. Perang Eropa I dan II, Celts karya martin J. Dougherty yang ia usulkan untuk kujadikan wishlist, serta Animal Farm dan 1984 yang sudah terbeli.

Terima kasih. Tiba sudah aku mencapai titik akhir. Your eyes won’t show me my own definition of multiverse again, I know. Kiranya Neptunus bertabur limpahan cinta.

Pamit, ya. Kau akan baik-baik saja, demikian aku.



Pertengahan tempat sebelum akhirnya terlahir jumpa
—Probolinggo, 26 Juli 2020

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran