Nothing into Something, Something into Nothing
Nothing could turn into something and something could turn into nothing.
Di maha luasnya semesta ataupun alam semesta majemuk, secara realistis, engkau terlahir dari ketiadaan menjadi ada, kemudiaan akan kembali meninggalkan dunia dengan tiada. Demikian dengan beberapa masalah yang menerpa manusia, kekosongan akan terisi dengan kerumitan. Sel otak mencoba mencerna sekaligus mengolahnya guna menjadikan masalah tersebut kembali kosong.
Dua puluh dua tahun seorang Monique berusaha memaknai akan setiap peristiwa baik, pun buruk. Keluarga, teman, seorang yang dicinta dan menyangkut apa-apa yang memiliki hubungan erat dengannya. Lebih dari separuhnya begitu menyakitkan. Kehilangan. Pengabaian.
Soal kehilangan, pada dasarnya, apapun yang kau punya bukanlah milikmu. Kehilangan hanyalah bentuk penghibur atas perwujudan nomina pada tiap individu dan benda yang sifatnya sementara. Hak milikmu dibatasi oleh durasi. Kau, sesungguhnya, tak memiliki apa-apa.
Aku tidak sedang menganggap bahwa diriku yang paling terluka, yang paling merasa akan sebuah kesakitan, yang paling terpojokkan. Tidak. Apapun yang terjadi telah sesuai dengan porsiku, sesuai kemampuan akan bagaimana aku—pada kenyataannya—berhasil melampauinya tanpa perlu mempertanyakan sebuah konsep keadilan.
Kesadaran, kelak, akan semakin kau temukan kala menumbuh dan mengalami.
Penemuan kedamaian dalam diri sendiri terwujud ketika manusia menerima dan mengikhlaskan. Sesakit apapun itu. Tanpa mengungkit.
Untuk yang keempat kali dengan orang berbeda, kasus yang sama, memaafkan kiranya cara terbaik sebagai manusia yang memiliki akal dan hati.
Aku menerima. Aku memaafkanmu. Tak ada harapan yang lebih baik daripada melimpahkan kebahagiaan, untukmu.
—Malang, 23 Juli 2020
Comments
Post a Comment