The Death of Stars, The Death of Us

“Suatu hal penting menyangkut ketidakterhinggan adalah bahwa ketidakterhinggan bukan sekadar bilangan yang besar. Jika keabadian hanya berarti memiliki pemikiran dan pengalaman yang sama berulang-ulang tanpa akhir, memang keabadian terkesan tidak berarti.”


Kalimat memukau tersebut terlontar dari seorang ahli astrofisika asal New York—Neil deGrasse Tyson—yang menurut saya, layak untuk dijadikan bahan renungan.


Mungkinkah ada makna sejati dalam proyek yang tidak pernah selesai? Sebab, selamanya adalah waktu yang lama.


Salah seorang teman saya pernah berkata bahwa satu-satunya hal yang pasti adalah kematian. Barangkali benar. Namun, sejauh keyakinan saya, kematian pun akan melahirkan sebuah kehidupan baru, yang tampaknya, seluruh wujud di maha luasnya rentang ruang-waktu memang sengaja diciptakan abadi melalui proses pembaruan. Sebuah siklus. Sebab, manusia merupakan bagian dari energi, dan energi energi sendiri bersifat kekal—dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain, tetapi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan. Begitu, menurut Hukum I Termodinamika.


Sudahlah, akui saja, entitas apapun yang terilhat maupun tidak—manusia, hewan, tumbuhan, cahaya tampak dan tidak tampak, neutrino, dsb—berasal dari zat-zat bintang yakni oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, kalsium, fosfor. Interior tubuh manusia yang tersusun atas materi-materi kimia tersebut memiliki karib yang jauh—terlampau jauh—di sana. Ya, Bintang Vega, Alpha Centauri, Betelgeuse merupakan sahabat penduduk Bumi yang dapat diajak berkomunikasi hanya melalui pancaran radiasi.


Kembali pada konsep kematian, bintang-bintang juga memiliki siklus kehidupan yang perjalanan akhirnya ditentukan oleh massanya sendiri. Bintang seperti Matahari akan menjadi katai putih, berbeda dengan bintang yang memiliki massa sedikitnya delapan kali lebih besar dari Matahari akan meledak dalam supernova. Takdir bintang masif berakhir dengan meledakkan diri lalu menjadi bintang neutron, atau yang lebih katastrofis, membentuk lubang hitam lantaran gaya gravitasi begitu kuat dan zat seperti neutron tak mampu lagi menahan tekanan sehingga pusat bintang terus runtuh.


Lalu, apakah mereka dengan mudahnya lenyap begitu saja? Apakah perjalanan mereka terhenti hanya sampai di sana? Tentunya tidak. Ada efek baru yang ditimbulkan. Ada serangkaian kelahiran baru yang dihasilkan setelah kematian yang baru saja terjadi. Awan gas tak beraturan yang berasal dari kematian bintang yang telah tercerai-berai—biasa dikenal dengan sebutan nebula—perlahan menghangat dan mengalami keruntuhan gravitasi dan membentuk protobintang. Apabila massanya cukup, ia akan membakar sejumlah hidrogen yang terkumpul menjadi inti-inti helium dan dapat berfusi menjadi karbon jika suhu pusat bintang amat tinggi. Perubahan bentuk energi menggiring apa-apa yang telah mati menjadi hidup kembali dengan wujud yang baru.


Demikian dengan manusia. Kita semua sama. Kematian memang suatu hal pasti dan tiap-tiap individu akan menjumpai itu di waktu berbeda, yang setelahnya akan ada sebuah kehidupan baru yang entah seperti apa dan bagaimana. Akankah itu menyakitkan atau terus-menerus bahagia, bila konsep tanpa akhir memang nyata adanya, keabadian nampaknya dirasa menjemukan dan sungguh, menakutkan.


Barangkali benar, kita tidaklah benar-benar mati, seperti bintang-bintang tersebut.



—Malang, 27 Agustus 2020

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran