Berlabuh

Aku selalu menemui abu-abu pada terang yang ingin kujumpai sedari dulu.

Keraguan ini merupakan nestapa terbesar yang perlahan menghancurkan. Aku tidak tahu pada siapa 'kan berlabuh nanti, entah pada liarnya nalar atau lembutnya hati. Sebab, garis batas tak pernah benar-benar tampak nyata. Keduanya fiktif yang bisa dicipta kemudian diluruhkan oleh siapa saja. Hadir-runtuh berulang kali.

Kini, aku menaruh iri kepada ketidaktahuan.

Kehidupan melahirkan timbunan pertanyaan, kematian menghadirkan tumpuk jawaban.

Comments

Popular posts from this blog

Pengakuan

Tuhan, Dadu, dan Mekanika Kuantum

Peran