(in)kognito
Bukan kabar buruk kembali pada ritme yang seharusnya. Setiap hari adalah pengecualian. Di dunia imajiner, ia hanyalah salah satu inkognito di antara jejaring yang dibuatnya. Dan seteguh apapun dia menentang, ada kalanya waktu akan membawanya kembali melalui proses kesadaran dan pengamatan.
---
Sampai beberapa hari lalu, ia datang dari balik malam dan pulang ke pangkuan malam. Tak ada yang dapat memastikan bagaimana dirinya berhasil merangkai tiap untai rekognisi. Jalanan yang semula tenang mewujud seliar lautan lepas, sementara udara dingin membawanya pada ingatan pertama—dunia aroma. Seseorang membukakan portal ingatan itu.
Monolog dan dialog bermunculan ketika musim hujan dimulai. Ia menyerap tiap informasi atas ingatan yang menanggalkan wujud seperti tak lebih dari es yang kemudian mencair. Tak ada yang melekat pada diri seorang kecuali aroma. Tiap kota dan musim-musimnya meninggalkan lantunan aroma yang akan kau selalu ingat, katanya. Dan ia, perempuan itu, akan terus mengingat malam tersebut.
Satu jam, dua jam, hingga hanya menyisakan basah di tanah. Dunia sudah gelap dan berlanjut pada percakapan berikutnya.
---
Dan di antara gemuruh hari, ia terus merekam gelimang aroma nafas dan tubuh orang itu. Melepaskan belitan inkognito yang telah lama dijajalnya.
—Yogyakarta, 26 Maret 2023
aku menunggu pertemuan selanjutnya dan selanjutnya
Comments
Post a Comment